Cover

style=
Budaya  

Kota Bunga Malino Sambut Kedatangan Kami dengan Ramah

Gowa, Mapress.co.id – Hujan lebat yang kami khawatirkan, ternyata tidak terjadi. Tak ada hujan selepas Samata hingga Malino. Kota Bunga itu seolah menyambut kami dengan ramah.

Kami langsung menuju Masagena Cottage 2 yang berada di Lingkungan Batulapisi Dalam. Teh hangat terasa nikmat begitu masuk ke kerongkongan, bagai membersihkan badan dari sisa-sisa dingin AC selama berkendara. Malam itu, kami menyantap sop konro dan nasu palekko.

Saya sengaja berjalan menyisir restoran tempat kami makan. Salah seorang karyawan menunjuk kerlap-kerlip lampu di kejauhan. Katanya, itu adalah kawasan bendungan Bili-Bili.

Pemandangan dari sisi barat resto di Masagena Cottage 2 ini memang terasa indah dengan sapuan awan tipis di langit gelap.

Setelah makan sambil ngobrol panjang, kami diajak ke Masagena Cottage 3. Hanya hitungan menit ke sana, dengan melewati jalan berkelok yang jadi ciri Malino. Sekadar berputar sebentar, kami langsung balik arah menuju Masagena Cottage 1.

Begitu tiba, masing-masing dari kami menuju kamar untuk menaruh barang, lalu diajak nyanyi-nyanyi di Masagena Coffee.

Masagena Cottage 1 memang menawarkan beragam paket, mulai dari gathering, workshop, event, party, live music, hingga meeting room.

Masagena Cottage 1 yang berada di Jalan Karaeng Pado, tak jauh dari lokasi Wisata Hutan Pinus ini, pernah jadi tempat acara kami. Reuni 30 Tahun Alumni Fakultas Hukum Unhas Angkatan ’87 di tahun 2017.

Makanya saya cukup mengenali bentuk bangunannya, meski sudah agak berubah dari sebelumnya, yang dibuat serupa rumah panggung.

Saat pagi tiba, saya tak ingin melewatkan suasana Malino dengan segala kesibukannya. Saya melangkahkan kaki menuju Pasar Sentral Malino, yang berada di seberang jalan.

Saya mengabadikan beberapa pedagang yang menjual tenteng, dodol, markisa dan oleh-oleh lainnya, yang berderet di sepanjang jalan.

Saya melihat kegesitan ibu-ibu yang menjual hasil bumi, seperti tomat, kentang, kol, bonte (mentimun), dan sayur-mayur yang dibawa dari Tombolo Pao.

Ketika kembali melewati kamar-kamar di Masagena Cottage 1, saya menjepret nama-nama kamarnya dengan kamera smartphone. Semua namanya menggunakan bahasa Bugis, seperti Wanua, Siporio, Mattantu, Sipurennu, dan Sipammase.

Kami sarapan nasi goreng, telur ayam, ikan goreng yang dilaburi sambal, ayam goreng, dan kerupuk. Obrolan pagi kian seru karena ditemani kopi hitam. Pembicaraan melompat dari satu topik ke topik lainnya.

Saya sempat nyeletuk, kayaknya jarang kita menemukan suasana pagi sambil berbincang seperti ini.

Di zaman serba digital ini, kebanyakan dari kita menyambut hari dengan berselancaran di dunia maya. Perbincangan antar anggota keluarga sudah jarang terlihat, masing-masing sibuk dengan telepon pintar di genggamannya.

Setelah sarapan, kami berkemas menuju Masagena Cottage 3. Diam-diam saya memuji Prof Ruri, begitu sahabat kami ini disapa. Dia mampu memainkan kontur tanah dengan menghadirkan bangunan-bangunan berkonsep tradisional yang secara arsitektur indah.

Bangunan dengan warna dominan cokelat dan hijau itu menyatu dengan warna alam yang menghampar di depannya. Lanskap pegunungan di kejauhan menjadi spot foto yang tak bosan dieksplorasi.

Hebatnya lagi, ide bangunan-bangunan itu sepenuhnya dari Prof Ruri. Dia mengaku hanya berkomunikasi via WhatsApp dengan tukangnya, yang notabene bukan seorang arsitek. Dari situ, dia mengarahkan, mengoreksi, sebagaimana yang ada dalam imajinasinya.

Setelah puas berfoto-foto di Masagena Cottage 3, yang bersebelahan dengan Kampung Eropa, kami diajak ngeteh di Roemah Makan Tradisional. Terdapat 2 gumbang besar di sisi kiri dan kanan rumah makan ini, dengan tungku dan kayu-kayu sebagai bahan bakarnya. Tentu saja itu bukan sekadar pajangan, atau pemanis, tetapi penanda komitmen pemiliknya merawat tradisi dan budaya.

Di depannya ada gerobak, semacam angkringan, yang menyediakan pallu basa. Saya sempat melirik tulisan di salah satu dindingnya. Bunyinya, “Budaya Abadi, Generasi Berkarya.” Rumah makan ini, jika dilihat dari Masagena Cottage 3, seolah menyatu dengan deretan bangunan yang ada di situ, padahal tidak.

Di area Masagena Cottage 3, pernah pula diadakan Masagena TraditionArt Exhibition, pada Desember 2021. Pada event tersebut diadakan parade kebudayaan yang menampilkan beragam atraksi dan pertunjukan.

Dari Masagena Cottage 3 kami kembali ke Masagena Cottage 2. Berkali-kali kami ditawari makan oleh Prof Ruri, tetapi seluruh lambung kami rasa-rasanya sudah penuh. Kompromi kemudian ditempuh, saat ditawari “intel” alias indomie telur. Menu ini jadi penutup perjalanan kami selama di Malino. “Deceng enrekki ri bola tejjali tettapere banna mase” ~ Masagena.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *