Takalar, Mapress.co.id – Pertunjukan Drama ASARAKA oleh mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah, dan Prodi Pendidikan Bahasa Makassar Angkatan 2025, Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS), Universitas Negeri Makassar (UNM), berlangsung meriah.
Ratusan penonton memenuhi Lapangan Manngaweang Daeng Nulung, Desa Moncongkomba, Kecamatan Polongbangkeng Selatan, Kabupaten Takalar, Kamis (21/05/2026).
Aplaus diberikan setiap kali penampil menyuguhkan pertunjukannya, berupa musikalisasi puisi, lagu bahasa Makassar, tarian kontemporer, dan atraksi seni lainnya yang terjalin dalam satu rangkaian cerita.
“Pementasan drama ASARAKA merupakan produk nyata dari Pembelajaran Berbasis Projek atau PjBL, yang kami terapkan di Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah,” jelas Prof. Dr. Hj. Kembong Daeng, M.Hum, Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS UNM.
Sebagai pengampu mata kuliah “Teori dan Apresiasi Puisi Makassar”, Prof Kembong Daeng mengapresiasi kesungguhan mahasiswanya mempersiapkan pertunjukan outdoor itu. Selama 10 hari, sekitar 70 mahasiswa angkatan 2025, bersinergi dan berkolaborasi mewujudkan pertunjukan yang sarat nilai budaya dan filosofi Makassar itu.
Prof. Dr. Hj. Kembong Daeng, M.Hum, dan Nur Hasbi, S.Pd, M.Pd merupakan dosen pengampu mata kuliah “Teori dan Apresiasi Puisi Makassar”, yang punya pendekatan kreatif dan edukatif dalam literasi bahasa dan sastra Makassar.
Pementasan drama ASARAKA menceritakan masuknya Islam di Cikoang, Takalar ‘Butta Panrannuangku’ melalui Syekh Jalaluddin serta konflik dua pemuda miskin yang terpaksa mencuri demi bertahan hidup.
Cerita ini mengangkat tema iman, kemiskinan, moralitas, dan sisi gelap manusia dalam kehidupan sosial.
ASARAKA dalam bahasa Makassar
berarti cermin.
“Kami memilih nama ini karena pertunjukan ini semoga menjadi bagi kita semua untuk melihat kembali nilai-nilai luhur orang Makassar, seperti siri’ na pacce, akbulo sibatang, dan kejujuran,
yang terkandung dalam Kelong dan Lontarak leluhur kita,” jelas Prof. Kembong Daeng.
Pertunjukan drama ASARAKA ini disaksikan berbagai kalangan. Hadir perwakilan Pemerintah Kabupaten Takalar, Dekan FBS UNM, Prof Dr. Anshari, M.Hum, Wakil Dekan III FBS UNM, Dr Syamsu Rijal, S.Pd, M.Hum, serta beberapa dosen FBS UNM, antara lain Dr Asis Nojeng, M.Pd.
Juga hadir pegiat literasi dan Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan, Rusdin Tompo, serta tokoh masyarakat Desa Moncongkomba.
Menurut Prof. Kembong Daeng, di panggung yang terbuat dari batang-batang bambu itu, bukan hanya cerita yang disaksikan tetapi pantulan jati diri kita sendiri.
Ditambahkan, melalui PjBL, mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas. Lebih dari itu, mereka merancang, memproduksi, dan mempertanggungjawabkan karya seni yang dibuat dan ditampilkan secara utuh.
Mulai dari mengkaji tema, menulis skenario, melatih akting dan tari, hingga membangun panggung malam ini. Semua dikerjakan mahasiswa sendiri dengan bimbingan senior, dan dosen sebagai fasilitator.
“Inilah esensi Profil Pelajar Pancasila: mandiri, bernalar kritis, kreatif, bergotong royong, dan berakhlak mulia. Semua itu hidup dalam proses produksi ASARAKA,” imbuh Prof. Kembong Daeng.
Penulis buku autobiografi “Permata Karya” itu mengaku bangga pada mahasiswa Angkatan 2025. Karena telah membuktikan
bahwa pembelajaran bisa bermakna, ketika langsung menyentuh budaya dan masyarakat.
Katanya, semua yang dibawa ke panggung bukan hanya cerita, tetapi nilai. Yakni nilai siri’ na pacce, nilai kebaikan, nilai kebanggaan menjadi orang Makassar.
“Kami sengaja membawa ASARAKA ke ruang publik di Takalar agar masyarakat melihat langsung bahwa kampus tidak jauh dari kehidupan. Bahwa sastra Makassar terus akan hidup dan relevan,” katanya yang disambut gemuruh tepuk tangan.
Prof. Kembong Daeng yakin bahwa setiap keringat, setiap latihan, setiap dialog yang hafal dan dipahmi para pemain, adalah bagian dari proses pembentukan karakter.(*)



















