Makassar, Mapress.co.id – Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan (BBP Sulsel) menggelar kegiatan Uji Keterbacaan Buku Cerita Anak Dwibahasa, di SD Negeri Sudirman I Kota Makassar, Senin (20/10/2025).
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan minat baca sekaligus memperkuat literasi bahasa daerah dan bahasa Indonesia di kalangan siswa sekolah dasar.
Sebanyak 20 siswa dari kelas IV, V, dan VI serta empat guru dan kepala sekolah ikut ambil bagian dalam kegiatan ini.
Mereka menerima buku cerita anak dwibahasa untuk dibaca, kemudian diminta menjelaskan isi dan makna bacaan yang telah mereka pahami.
Kepala Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan, Toha Machsum, S.Ag., M.Ag., menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi langkah penting dalam memastikan kualitas keterbacaan buku cerita anak dwibahasa yang sedang dikembangkan oleh Balai Bahasa.
“Melalui kegiatan uji keterbacaan ini, kami ingin memastikan bahwa buku cerita anak dwibahasa tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga mudah dipahami oleh pembaca usia sekolah dasar,” ujar Toha Machsum.
“Anak-anak diajak untuk membaca, memahami alur, serta mengaitkan isi cerita dengan gambar yang ditampilkan. Ini juga menjadi sarana untuk menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa daerah dan bahasa Indonesia,” sambungnya.
Selain membaca, para siswa juga diajak berdiskusi mengenai alur cerita, karakter tokoh, dan pesan moral yang terkandung di dalam buku. Guru turut mendampingi untuk membantu siswa dalam memahami isi bacaan serta memberikan umpan balik kepada tim Balai Bahasa mengenai tingkat keterbacaan buku.
Kepala SD Negeri Sudirman I Makassar, Haslinda Muchlis, S.Pd, M.Pd menyambut baik kegiatan tersebut dan menilai program ini memberikan manfaat besar bagi peningkatan budaya literasi di sekolah.
“Kegiatan ini sangat positif karena membuat anak-anak lebih bersemangat membaca. Mereka belajar memahami isi cerita, membedakan alur, dan menjelaskan kembali dengan cara mereka sendiri,” ujar Haslinda, Kamis (23/10/2025).
Kegiatan uji keterbacaan ini diharapkan dapat menghasilkan bahan bacaan yang lebih sesuai dengan tingkat pemahaman siswa sekolah dasar, serta mendukung program nasional dalam memperkuat literasi bahasa daerah sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
“Kami berharap melalui kegiatan seperti ini, siswa dapat menjadi generasi yang berwawasan luas, mampu berpikir kritis, dan mencintai bahasa serta budaya daerahnya,” tutupnya.


















