Cover

style=

Jadi Korban Salah Tangkap, Warga Pampang II Diduga Dianiaya Tim Resmob Polsek Panakkukang

Makassar – Tim Resmob Polsek Panakukang diduga melakukan salah tangkap terhadap seorang pria bernama Ibrahim asal Pampang II, Kelurahan Pampang, Kecamatan Panakkukang, Kota Makasaar, Jum’at (27/06/2025) dini hari.

Selain salah tangkap, polisi juga diduga melakukan penganiayaan terhadap Ibrahim.

Di mana, dalam pemeriksaan polisi, Ibrahim dipaksa mengaku terlibat dalam tawuran kelompok yang terjadi di Pampang II beberapa hari yang lalu.

Diketahui dari peristiwa tawuran tersebut, sebelumnya 7 remaja yang di amankan polisi, namun dari ketujuh orang, 3 diantaranya di pulangkan dengan alasan tidak cukup bukti terlibat aksi tawuran .

Atas kejadian salah tangkap, pihak keluarga pun angkat bicara. Ia mengaku keberatan dengan penangkapan yang dilakukan oleh Tim Resmob Polsek Panakukang. Pasalnya, Ibrahim sama sekali tidak ada saat tawuran/ perang kelompok di tempat tersebut.

“Kami keberatan, karena adik saya tidak ada di pampang saat terjadi perang kelompok,” kata Ardianto Kakak kandung Ibrahim, Jum’at (11/07/2025).

Kakak kandung Ibrahim menerangkan saat tawuran tersebut berlangsung, Ibrahim tengah berada di Morowali. Dia bekerja dan bahkan bukti-bukti pesan WhatsApp bersama orang tua masih ada.

“Adik saya ada di Morowali. Dia bekerja di sana dan masih ada bukti chat orang tua saya yang minta uang beli beras dan lainnya,” jelasnya.

Penangkapan Tanpa Surat Perintah Hingga Aniaya.

Pihak keluarga juga mempertanyakan terkait proses penangkapan tanpa menunjukkan surat perintah. Pihak keluarga pun tidak pernah diberitahu tentang apa akar masalahnya.

“Mereka datang tanpa surat apa-apa, langsung masuk tanpa permisi untuk menangkap adik saya. Kami bertanya ada apa, mereka hanya bilang di Polsek aja,” ujarnya.

Selain itu, adiknya disuruh mengakui terlibat dalam kasus perang kelompok. Parahnya, saat di Polsek Panakukang adiknya dipaksa memegang busur. Padahal dia tidak tahu apa-apa.

“Ada beberapa orang yang ditangkap termasuk adik saya. Saat di Polsek, Pak Kanit paksa pegang busur dan akui itu miliknya, pada hal adik saya tidak tau menahu,” ungkapnya.

Hal yang paling membuat keluarga geram adanya luka di sekujur Ibrahim. Diduga luka itu karena dianiaya anggota polisi agar mengaku terlibat.

“Ada bengkak di bagian kaki adik saya. Polisi aniaya agar adik saya mau mengaku,” katanya.

Orang Tua Ibrahim saat di mintai keterangan dari awak media, dan minta keadilan seadil-adilnya. Ia bahkan sangat syok karena anaknya tidak pernah sama sekali terlibat dalam perang kelompok tersebut.

“Anak saya ditangkap, dianiaya juga. Dia tidak tahu apa-apa kasian, saya cuman minta anak saya bisa bebas,” ujar Ibu Hasna.

Hingga saat ini, Ibrahim sudah ditahan selama dua pekan. Oleh karena itu, pihaknya berharap keadilan bahkan akan melaporkan kejadian itu ke Propam Polda Sulsel.

Sedangkan Kapolsek Panakkukang, AKP Aris Satrio Sujatmiko, S.I.K, MH, saat di konfirmasi melalui pesan WhatsApp mengatakan, terkait hal tersebut sudah dilakukan gelar perkara. “Tabe kapan bisa ke Polsek biar kami jelaskan secara detail pak,” pungkasnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *