Makassar, Mapress.co.id – Pertandingan antara tuan rumah PSS Sleman melawan PSM Makassar yang berakhir dengan skor 3-1 untuk kemenangan tuan rumah, akhirnya menuai protes dari pemain PSM Makassar.
Sebab, sepanjang pertandingan pemain PSM Makassar merasa dicurangi dan dirugikan akibat kepemimpinan wasit Nendi Rohaendi.
Sekedar diketahui, PSS Sleman berada di zona degradasi di peringkat (18) dengan nilai 22 poin, dan membutuhkan kemenangan di 4 sisa pertandingan untuk keluar dari zona degradasi, termasuk melawan PSM Makassar.
Dengan hasil kemenangan atas PSM Makassar, PSS Sleman tetap di peringkat (18) dengan poin 25, hanya terpaut 6 poin dari Semen Padang yang berada di peringkat (15) klasemen sementara Liga Indonesia.
Pasca pertandingan antara PSS Sleman melawan PSM Makassar, pemain asing sekaligus captain PSM Makassar, Yuran Fernandes mengkritik PSSI melalui stroy di instagram miliknya.
“Sepakbola di Indonesia hanya candaan. Makanya level dan korupsinya akan tetap sama. Jika anda ingin menghasilkan uang, anda bisa datang ke Indonesia. Jika anda ingin bermain sepakbola serius, menjauhlah dari Indonesia,” tulis Yuran Fernandes.
Akibat mengkritik PSSI, Yuran Fernandes dijatuhi sanksi oleh PSSI berupa larangan bermain di Indonesia selama 12 bulan dan denda Rp25 juta.
Dengan keputusan PSSI ini, mendapat kecaman dari seluruh rakyat pencinta sepakbola di Indonesia.
Salah satunya datang dari Andi Jaka Malageni. Menurutnya, jangan hanya menyalahkan pemain asing, banyak juga pemain lokal yang kecewa karena keputusan wasit.
“Indonesia sangat terkenal dengan mafianya, khususnya di sepakbola. Apalagi di sisa pertandingan terakhir, antara klub yang berjuang di zona degradasi ketemu club yang secara kertas sudah tidak ada peluang juara dan sudah lolos dari degradasi,” ujar Jeje (sapaan akrabnya) Sabtu (10/05/2025).
Seharusnya, kata Jeje, PT LIB dan Ketua Umum PSSI, Erick Tohir belajar dari pengalaman. “Kalau tidak mau di protes dari pemain, baik pemain lokal maupun asing, ya perbaiki kualitas liga itu sendiri, baik dari wasitnya dan perangkat pertandingannya. Berikan sanksi tegas tanpa pandang bulu siapapun yang jadi pelaku yang merusak citra sepakbola Indonesia,” tegasnya.
“Disini saya lihat hanya pemain yang disalahkan, ini ada sebab dan akibat. Pemain pasti merespon ketika mereka dicurangi sama wasit,” sambungnya.
Selain itu, Jeje menjelaskan bahwa, ketika Penasehat Semen Padang, Andre Rosiade, yang juga merupakan Anggota DPR RI dari Partai Gerindra, menuding adanya mafia di persepakbolaan Indonesia.
Menurut mertua dari Arhan Pratama ini mengungkapkan, diduga ada 2 mafia yang merupakan operator berinisial (JN) dan (P). “Hampir semua elit PSSI tahu ini. Ditunggu aksi bersih-bersihnya Pak Ketum PSSI, Erick Tohir,” tulis Andre Rosiade di akun instagram miliknya.
Lanjut Jeje menyampaikan, kenapa PSSI khususnya Ketum Erick Tohir tidak memberikan sanksi kepada Semen Padang dan Pak Andre Rosiade. Ia jelas-jelas telah menyebut ada mafia di tubuh PSSI.
“Ini jelas diskriminasi namanya. Jangan karena Andre Rosiade seorang pejabat sehingga tidak berani memberikan sanski kepada dirinya maupun Semen Padang. Harus objektif melihat dan menilai suatu objek permasalahan, jangan hanya pemain terus yang disudutkan dan disalahkan. Memangnya wasit sudah fair, memangnya di kubu PSSI tidak ada mafia didalamnya,” pungkasnya.


















