Makassar, Mapress.co.id – UPT SPF SMPN 8 Makassar melaksanakan Gerakan Tindakan Empati, Mendengar, dan Aksi Nyata – Dukungan, Edukasi, Kepedulian Antar Warga Terpadu (Teman Dekat) sebagai upaya menanamkan rasa empati pada siswa melalui inovasi sekolah.
Melalui Tagline “Saling Dengar, Saling Peduli, dan Saling Membantu, kegiatan ini merupakan wujud rasa empati, dan kunci menekan perundungan gerakan sekolah ramah anak sebagai kunci menekan anti bulying di sekolah.
Dalam keterangannya, Kepala SMPN 8 Makassar, Herni Marlinda, S.Pd, M.Pd, mengatakan bahwa kegiatan ini terus diperkuat sebagai upaya menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi peserta didik.
“Jadi fokus utama kegiatan ini adalah menekan praktik perundungan yang masih kerap terjadi di ruang pendidikan. Pendekatan empati menjadi strategi utama dalam membangun kesadaran bersama tentang pentingnya saling menghargai. Anak-anak diajak memahami perasaan orang lain sebelum bertindak atau berucap. Proses ini dilakukan melalui pembiasaan sikap peduli dan komunikasi yang sehat,” jelas Herni Marlinda, Selasa (18/08/2026).
Selain itu, lingkungan belajar yang mendukung diharapkan mampu mencegah munculnya perilaku agresif. Kesadaran kolektif menjadi fondasi penting dalam menciptakan ruang belajar yang inklusif.
Kegiatan ini mendapat respons positif karena menempatkan anak sebagai subjek utama pendidikan.
“Pendekatan empati dinilai efektif karena menyentuh aspek emosional dan sosial peserta didik. Anak tidak hanya diajarkan aturan, tetapi juga dilatih memahami dampak dari setiap tindakan,” ujarnya.
Menurutnya, melalui kegiatan reflektif, diskusi, dan simulasi, anak belajar merasakan posisi orang lain.
“Cara ini membantu membangun kepekaan sosial sejak dini. Anak menjadi lebih terbuka dalam mengekspresikan perasaan tanpa rasa takut. Hubungan antar peserta didik pun terjalin lebih harmonis. Konflik dapat diselesaikan melalui dialog yang saling menghargai. Perlahan, budaya saling menghormati tumbuh secara alami,” ungkapnya.
Selain berdampak pada peserta didik, pendekatan empati juga memperkuat iklim pembelajaran secara keseluruhan. Suasana kelas menjadi lebih kondusif dan minim tekanan psikologis.
“Anak merasa aman untuk bertanya, berpendapat, dan berpartisipasi aktif. Rasa percaya diri meningkat seiring dengan berkurangnya rasa takut akan ejekan atau perlakuan tidak menyenangkan. Interaksi sosial berjalan lebih sehat dan seimbang. Nilai toleransi dan kerja sama semakin menguat dalam keseharian. Proses belajar tidak lagi sekadar akademik, tetapi juga pembentukan karakter,” bebernya.
Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan yang berorientasi pada perkembangan holistik anak.
Kegiatan ini juga mendorong keterlibatan seluruh komunitas belajar. Setiap pihak memiliki peran dalam menjaga suasana yang aman dan mendukung.
Komunikasi terbuka menjadi kunci dalam mendeteksi potensi perundungan sejak dini. Masukan dan aspirasi anak dihargai sebagai bagian dari proses pembelajaran. Lingkungan yang responsif membantu anak merasa didengar dan dipahami.
“Jadi pendekatan ini mencegah normalisasi kekerasan verbal maupun non-verbal. Anak belajar bahwa perbedaan adalah hal yang wajar dan patut dihormati. Dengan demikian, rasa empati tumbuh menjadi budaya bersama,” katanya.
Keberlanjutan kegiatan ini diharapkan mampu menciptakan generasi yang berkarakter kuat dan berperilaku positif. Anak dibekali kemampuan sosial yang penting untuk kehidupan bermasyarakat. Nilai empati menjadi bekal dalam menghadapi beragam situasi di masa depan.
Menurut Herni Marlinda, perundungan tidak hanya dicegah, tetapi juga digantikan dengan sikap saling mendukung. Lingkungan belajar yang ramah menjadi ruang aman untuk tumbuh dan berkembang. Pendidikan pun berfungsi sebagai sarana pembentukan manusia yang beradab.
“Tentunya kami berharap, kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam menciptakan perubahan jangka panjang. Harapannya, budaya empati terus hidup dan berkembang dalam dunia pendidikan,” pungkasnya.












